Siapa yang tidak pernah merasakan putus cinta, maka dia tidak akan bisa menghargai—dengan sebaik-baiknya—kehadiran cinta.
Kehadiran cinta membawa:
- indahnya perbedaan,
- indahnya anugrah kekurangan yang ada,
- indahnya hidup,
- indahnya berbagi,
- indahnya perjuangan,
- indahnya kesedihan,
- indahnya letih,
- indahnya tangisan—saat sedih dan saat bahagia.
Dia yang pernah merasakan putus cinta, memiliki semangat tinggi untuk terus bercinta dan mempertahankan cinta-cintanya—cintanya kepada diri sendiri, keluarga, kerabat (termasuk sahabat), masyarakat, alam, dan 4wI.
Demi cintanya kepada diri sendiri, dia pertahankan harga diri dan berusaha dengan serius untuk menjadi mandiri—survive.
Demi cintanya kepada keluarga, dia pertahankan kehormatan keluarga—tidak berani semena-mena bertindak, demi kehormatan keluarga.
Demi cintanya kepada kerabat, dia pertahankan harga diri kerabatnya dan berusaha untuk membantu kekurangan kerabatnya—keharmonisannya layaknya tangan kanan-dan tangan kiri, saling membasuh (jika ada yang kotor atau sakit), merangkul(saat menghadapi masalah), dan mendekap (saat keadaan terjepit).
Demi cintanya kepada masyarakat, dia pertahankan pendidikan, pekerjaan, dan kesehatan masyarakatnya—dengan harta, ilmu, dan tenaga yang dimilikinya.
Demi cintanya kepada alam semesta, dia pertahankan perilaku untuk tidak semena-mena kepada sesama makhluk (selain Kholiq)—menjaga kelestarian alam.
Demi cintanya kepada 4wI, dia pertahankan cinta-cintanya itu semua.
Bersykurlah bagi yang pernah merasakan putusnya cinta. Dia akan berjuang mempertahankan cinta-cintanya dan memiliki semangat tinggi untuk terus bercinta.
Dan demi cinta kepada 4wI, hendaknya kita senantiasa bersyukur dalam kondisi dan situasi apapun.
Bukan begitu…..